Tarian Ombak (bag.11)

(silahkan klik DISINI untuk membaca bagian pertama)

SEBELAS

New York hari ini sebenarnya cerah sekali, namun bagi John tetap saja semua terlihat suram. Mobil yang dikendarainya melaju dengan sangat pelan seperti merayap. Saat melirik ke kiri ke arah Ground Zerro dengan cepat ia memalingkan wajahnya, mengusir jauh-jauh ingatan saat-saat menara kembar runtuh.
Seperti dikejar setan, mobil yang dikendarainya melintasi Church Street dengan sangat cepat, mencoba menghindar dari bayang-bayang. Sesaat kemudian ia menikung ke kanan, memasuki Warren Street yang padat.

Ciiiiiiiiiitttt..
Gesekan ban di aspal menimbulkan suara yang menyayat begitu John sontak menginjak pedal remnya.
Shit!
“Aishaaa…!”. Seorang laki-laki menjerit. Ia lemparkan begitu saja baju yang sedang dipegangnya kemudian berlari ke arah jalan. Dengan penuh khawatir dipeluk erat dan diciuminya wajah gadis kecil yang berdiri kaku di depan mobil John.
Para pengemudi serentak melongokkan kepala mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi. Setelah mengangguk ke arah John laki-laki itu segera membawa gadis mungil yang digendongnya ke arah istrinya yang berdiri menunggu dengan wajah seputih kapas.
Dengan kesal John membuka pintu, turun dari mobilnya. Saat membanting pintu tatapannya terbentur pada sebuah bola karet yang menempel di roda depan mobilnya. Diambilnya bola itu kemudian dengan amarah yang masih tersisa ia menyeberang ke sisi kanan jalan. Mulutnya baru saja terbuka ingin meledak namun air mata yang meleleh di wajah bocah itu sontak menghentikannya.
“Lain kali berhati-hatilah menjaga anakmu!”. John menyerahkan bola karet di tangannya kepada pria berjanggut di hadapannya.
“Baik tuan. Terima kasih!”, laki-laki itu mengangguk dengan perasaan begitu bersalah.
John berbalik memasuki mobilnya, memandang sekilas ke arah wanita muda berpakaian gelap yang menyelubungi seluruh tubuhnya dan gadis kecil yang terisak-isak sambil memeluk erat ibunya.
Sejenak John mengarahkan pandangannya ke bagian atas gedung, ke sebuah tulisan besar berwarna putih.

MASJID MANHATTAN

Masjid? Ahh… Moslem again!

John menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan sepasang suami istri yang terus menenangkan anaknya dalam bahasa asing yang tak dimengertinya, Melayu.
Memasuki Broadway ingatan John melayang kepada beberapa kasus penyerangan terhadap komunitas dan simbol-simbol Islam di Amerika dan Erofa paska runtuhnya menara kembar WTC. Satu hal yang sampai saat ini tetap tidak bisa ia mengerti, beberapa survey justru menunjukkan bahwa jumlah pemeluk baru agama itu terus meningkat secara signifikan.

... bersambung ...
tarian ombak bag12


baca cerita lainnya: MENJARING BUIH