Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

AUTISM

dalam kepekatan,
burung malam menjawab igauan
           seorang gadis yang mengalami gangguan ingatan.

hampir setiap malam ia merintih, bersenandung, atau berkata-kata,
           yang tak mampu kutangkap apa maknanya.

sesekali anjing peliharaannya bersuara,
entah memang faham
atau bisa jadi sekedar berusaha menenangkan tuannya.

aku masih tak berbaju, dibawah langit berwarna kelabu.

kurasa biarlah ia dengan dunianya,
tak perlu aku mengganggu atau merasa terganggu,
sebab aku juga berada dalam sebuah dunia
          yang tak tahu harus kusebut apa...



Kidung Jelaga sang pendosa

Kidung Jelaga sang pendosa:
"bait Mazmur yang tak lagi mashur"

Oho andaikata
oh bilasaja
seumpama para kesatria tak terlupa
tentang bagaimana mereka mendorong musa
sambil berkata: "pergilah kau berperang bersama tuhanmu, lebih baik kami di sini diam menunggu"

yah andaikata
dan bilasaja
seumpama para teruna tak alpa
soal bagaimana mereka mengejar dan melempari isa
sambil berfirman "kau seorang haram dari rahim pelacur murahan"

hai andaikata
ahai bilasaja
seumpama putera bungsu mampu memprasasti waktu
saat bagaiman mereka berintrik membunuh dua pembuluh, usman wa ali
sambil bersaksi kami lah pewaris nabi

ahhh, andaisaja... andaikata....


Begitulah

by: (Merry Adellia, 22 des 13)



sebagai angin yangg ntah kenapa hinggap di wuwungan,
            lembut,
ia berkisah padamu mengenai nestapa yangg ia coba tidak terpikirkan
namun tetap saja lekat di garis tangan

hingga tiap ia lekapkan telapak tangan di wajahnya,
terlihatlah,
            senantiasa
tercetak jelas di kulit paras yangg tiada pernah tidak pias

wahai ombak yangg suka menghempas tebing,
           pada bukit di tepi pantai
ku  ingin merengkuhmu dalam peluh bergaram
lalu membawamu ke malam di tengah samudra
untuk mengajakmu menanam ikan-ikan,
sembari berkisah soal gang-gang,
             yang tidak henti memendarkan cahaya cemerlang di kedalaman kelam

biarlah sejenak,
            mungkin untuk kali yangg pertama
biar bisa sedikit merasa bahagia

mendekatlah, katanya
ku ingin dirimu lekapkan kedua telapak tanganmu,
satu di pipi kiri, lainnya pada pipi kanan,
lalu tekan pelan saja,
biar dapat ku resap rasa hangat yang tidak kenal senyap,

namun, ku memilih menjauh,
            menentang
untuk menciptakan bayang memanjang ke utara,

sejak itu ia mengikutiku,
bahkan ketika tahu ”tidak kemana2”, ternyata.


sengatan Sitok Srengenge

seperti namanya, Srengenge yang berarti matahari, penyair Sitok Srengenge benar-benar 'menyengat' publik, menjadi topik pemberitaan di berbagai media lantaran RW, seorang mahasiswi UI, mengadukan tindakan asusila yang dilakukan Sitok kepadanya.


sitok srengenge, penyair, puisi
Sitok Srengenge (foto: google image search)

kita tidak akan bicara masalah siapa benar dan salah, karena ranah hukum lah nanti yang akan memproses dan membuktikannya. berikut ini adalah sebuah puisi coretan hati yang sempat ditulis RW dan telah diijinkan untuk dishare ke publik melalui kuasa hukumnya, Iwan Pangka, yang kami tulis ulang dari ulasan interview media kabar3 dengan Pangka.

The most paintful  Ramadhan ever
The most disappointing, surfering
I don’t even know if I could reach my own victory throught this month
I losing my self
That hide in darkness and silence
Feel sorrow and emptiness all alone
Knowing how angry is God to me angry as me to my self
Though I still can count how much God gave me bless
I’m facing my reality With some kinda unconsciousness, also with high tensity of logic
Between mind and feeling, logic and unlogic, wrong and right, emotion and poise
If egoism could walk for the sake of goodness, hide the truth, the best problem solving, hell yeah


MOSAIK KOSMIK

mosaik kosmik, debu kosmik, novel

MOSAIK KOSMIK

aku adalah titik yang mewujud menjadi garis
begitu pun kau, atau yang lain.
kita hanya goresan demi goresan
yang menjelma menjadi sketsa
ditoreh penuh rasa
terbentuk oleh cinta

aku kau kita semua
hanya kumpulan titik
mosaik kosmik dari lukisan cinta semesta raya

kita hanya bisa menanti
ketika warna lain datang mengganti
atau menunggu masa saat dihapusnya kita
kita harus rela ditimpa sapuan-sapuan baru
meski hilangnya itu dengan alasan cintanya

aku, kau dan mereka hanya titik-titik embun
yang tertiup di atas kaca
sampai kehangatan datang,
menguapkan semua

bagaimana bisa kumenafikan
bagaimana mungkin aku mengagungkan
bagaimana kugubah sesuatu yang maha indah?

aku kau kita semua
hanya titik-titik dalam lukisan kosmik
entah siapa awal
entah dimana akhir


Mushaf Qolbu (kumpulan puisi)

BLANKET

kenikmatan telah menyublim
dalam darah dalam nafas
bahkan memenuhi cakrawala
tak lagi sekedar menyelimuti
ia merasuk ke dalam mimpi
terhirup bersama udara
menetap dan menjadi plek di rongga dada
membungkus raga alam
menjadi nafas
menjadi pakaian

Ingin lari, entah kemana
karena ia adalah jarak
ingin sembunyi, tapi dimana
sebab ia adalah ruang.

kerinduan adalah keniscayaan
sebelum terbangun
sebelum terbangkit
memanggil cahaya dari pohon keberkatan

(jogja, mei 2008)


SUICIDE

kucoba menautkan diri pada lain nya
bahkan Kuikat dengan ruh ku sendiri
tetap saja ia berontak dan berlari

wahai pemilik buhul abadi
Ikatlah diri ini
hingga baka
Dalam jeratan cinta

(jogja, maiyah maret 2008)


MEMBACA  HATI

Aku masih terus membaca
Membolak-balik lembaran diri
Mengais secuil makna
Dari suhuf-suhuf hati

Makin banyak halaman kubuka
Semakin aku bertanya:
Masihkah ia dalam fitrahnya


(jogja, maret 2008)


Sebuah Pengakuan

puisi pengakuan kepada Tuhan















Ya rabb yang maha suci
            yang selalu bersedia memahami
Aku ingin bicara sesuatu
            yang sesungguhnya sangat Kau tahu

Ya rabbi rabbul izzati
            yang menguasai segala rahasia hati
Aku ingin membuat sebuah pengakuan
            yang sebenarnya tak perlu lagi ku katakan


PADA JILATAN API (Jejak pada Sajak)

ILALANG
bagai ilalang yang terpanggang semusiman
akarnya diam menunggu hujan
-  20 agustus 2013  -

SULUR
lewat sulur pada tebing terjal
kusematkan cinta,
                yang tak juga mencapai puncaknya
-  31 mei 2012 –

RESAH
pada tepian sungai kerinduan
rinduku semakin menggelisahkan
-  23 mei 2012 –

MENCARI HANGAT
aku ingin diam,
jika semua tak menghangatkan
-  November 2010 -

puisi, kerinduan

SESAT
segala sajak menjadi seperti tak berjejak
-  juli 2010 -

PADA JILATAN API
menatap jilatan api
aku bertanya pada wajahku sendiri
-  Mei 2009 -

Sungai Kehidupan

bagaimana kita akan bercerita?
sedang semua menutup mulutnya,
            mempertahankan sisa udara di rongga dada.

gerakkan saja kaki dan tangan,
           dalam diam
atau menolong semampu kita.
tenanglah mengikuti arus pusaran
berjuang menghindari batu benturan
juga bermanuver pada jeram curam.

tentu akan ada masanya,
        ketika arus bergerak tenang
maka tak mengapa bermain bersama ikan-ikan
memandangi kilauan mutiara,
atau berbaring telentang sambil terpejam,
       dalam senyum mengembang.

tak perlu melawan, menerjang, atau mendaki ke hulu,
       arus akan menyeret menghantammu
ikuti saja irama alirannya
suatu masa, Dia akan menjemput kita di muara...

puisi sungai kehidupan
sungai kehidupan














----------

Sidomulyo, lampung selatan. dua delapan sebelas tiga belas.